Kamis, 28 Maret 2013

MENUJU SALAH SATU PILIHAN ( SABILUL MUNJIAT )


SABILUL MUNJIAT
Sekretariat : Jl. Masjid Darul Ulum Rt.01 / Rw. 01 Kadu  Curug  Tangerang  B A N T E N    Phone : 021 92653105 

Bagian 1 : MENUJU SALAH SATU PILIHAN
Bismillahirrahmaanirrahim.

I.  KERANGKA DASAR PEMIKIRAN

           

Manusia perlu menyadari bahwa dirinya sebagai makhluk yang dicipta, atas dasar sebagai makhluk maka muncul konsekuensi-konsekuensi logisnya. Sebagai postulatnya, jika ada makhluk berarti ada yang mencipta atau khalik, disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak, diyakini atau tidak diyakini, itu adalah satu pradigma yang  konsisten. Realitas empiriknya makhluk akan membutuhkan kepada yang lain baik sebagai kelengkapan subordinasi atau sebagai kebutuhan sistemiknya. Jika kesadaran ini sempurna, maka sebagai konklusinya adalah ada tiga sistem kehidupan yang konsisten yakni khalik, manusia, dan ciptaan lain yang sejenis diri manusia itu lagi atau yang tidak sejenis. Secara realistis manusia harus mengetahui adanya wujud Allah, adanya wujud dirinya,  dan adanya ciptaan selain dirinya.
Hanya tiga unsur dominan dalam diri manusia; Aqal fikiran, rasa perasaan dan yaqin keyakinan. Aqal memiliki hukum dan aturan main secara logik dan sistematis, sedangkan perasaan pun demikian karena tempatnya yang amat sensitif, maka perasaan memerlukan perlindungan dan aturan-aturan yang memerankannya. Terlebih lagi keyakinan, satu sisi keyakinan secara umum disimpulkan banyak orang berada dihati, tetapi sisi lain bahwa keyakinan menempati seluruh ajnihah dan dimiliki oleh seluruh unsur dan seluruh bagian-bagian dari elemen-elemen tubuh manusia secara menyeluruh. Sungguh tiga faktor diatas telah banyak terabaikan baik dalam kesadaran ilmiah ataupun dalam kesadaran pengertian dan pengetahuan manusia itu sendiri sebagai pemilik dari tiga unsur itu.
            Tubuh manusia pula memiliki hakikat antagonis yang spektakuler; yakni ada bagian tubuh yang menjadi kainat pragmatis dalam “logika bahasa sabilul munjiat” disebut sirrul jalil,  ada pula yang memiliki kainat analitis atau “syadidul qadiir”, serta ada bagian dari sistem tubuh yang memiliki kainat filosofis atau “amru bainal kafanun”. Tiga hakikat ini hampir tidak pernah bisa disimpulkan oleh banyak orang, akhirnya kita tidak banyak mengenali diri sendiri, bahkan manusia tidak dapat menelaah dan menganalisa dirinya, padahal demikian itu membawa manusia semakian jauh dari hakikat dirinya, maka hukum selanjutnya bagi  manusia akan semakin jauh dari kehidupan dan kesuksesan.